Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Mandiri T.A. 2026/2027 Telah Dibuka!
Jayapura, Papua
Umum artikel, ilmiah

Belajar Melihat dari Metamorfoblus Sebuah catatan dari Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter

15 Aug 2026, 10:31 Oleh: Admin Humas 21 Kali Dibaca

Belajar Melihat dari Metamorfoblus

Sebuah catatan dari Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter

Oleh:

Dr. Ida Bagus Gede Surya Peradantha, M.Sn.

Email:

Peradantha@outlook.com

 

            Pagi itu, 14 Agustus 2026, saya mendapat kesempatan menonton Metamorfoblus karya Dosy Omar dibantu oleh Beck sebagai editor di Kampus I ISBI Tanah Papua. Pemutaran berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIT dan dilanjutkan dengan percakapan bersama pembuatnya. Sebagai dosen tari yang mengajar Kritik Tari, perhatian saya selama menonton justru bergerak pada persoalan yang sering saya hadapi bersama mahasiswa: dari mana kreativitas sebenarnya bermula?

 

Gambar 1: Dosy Omar (tengah) dan Beck (kiri) dipandu oleh dosen ISBI Tanah Papua, M. Ilham Murda (kanan), berbagi proses kreatif di balik Metamorfoblus dalam sesi pemutaran dan diskusi film di Kampus I ISBI Tanah Papua, 14 Agustus 2026.

Foto: dokumentasi penulis.

 

Ketika Slank Bukan Lagi Pusat Cerita

            Metamorfoblus berangkat dari Slank, tetapi film ini tidak memilih jalan yang mudah dengan menjadikan Slank sebagai pusat segala cerita. Kamera bergerak kepada para Slankers dan kehidupan yang terbentuk di sekitar musik tersebut. Kita bertemu orang-orang dari tempat dan pengalaman hidup yang berbeda. Ada Joker di Batam, seorang polisi dengan penampilan yang jauh dari stereotip polisi pada umumnya. Ada Andi Virus di Bantul dengan pengalaman keluarga dan pergulatannya dengan narkoba. Cerita bergerak hingga Kupang dan menyentuh hubungan Indonesia dan Timor-Leste melalui para penggemar grup band Slank. Dari kehidupan para penggemar sebuah grup musik, film kemudian berbicara tentang kekerasan, narkoba, keluarga, persaudaraan, perdamaian, dan perubahan. Di situlah bagi saya Metamorfoblus menjadi cerdas.

            Bayangkan jika pembuat film sejak awal hanya berpikir, "Saya akan membuat film tentang Slank." Kamera bisa mengikuti konser, masuk ke belakang panggung,

mewawancarai personel, membuka arsip, lalu menyusun perjalanan sebuah grup musik besar. Film seperti itu tetap sah. Namun Dosy menemukan sesuatu yang lebih jauh. Ia melihat bahwa cerita yang menarik justru hidup pada manusia-manusia yang bersentuhan dengan Slank.

            Slank akhirnya menjadi pintu masuk untuk membaca manusia. Cara menemukan cerita seperti ini semakin menarik ketika dalam diskusi Dosy mengatakan bahwa ia tidak selalu memahami riset sebagai kegiatan formal yang harus dimulai dengan rancangan yang serba lengkap. Ia bercerita tentang duduk di warung kopi, mendengarkan percakapan, memperhatikan orang dan mencermati fenomena yang terjadi. Dari situ gagasan bisa muncul. Bagi saya, apa yang dilakukannya tetap merupakan sebuah proses riset. Barangkali bentuknya berbeda dari riset akademik yang akrab dengan proposal, instrumen, wawancara terstruktur, dan sederet prosedur metodologis. Namun ada kegiatan mengamati, mendengar, menemukan pola, mempertanyakan sesuatu, lalu mengambil keputusan berdasarkan apa yang ditemukan

 

Gambar 2. Cuplikan Metamorfoblus yang memperlihatkan pesan perdamaian antara Slankers Kupang dan Dili. Film membawa kisah penggemar musik menuju persoalan yang lebih luas tentang persaudaraan, batas, dan perdamaian.

Foto: dokumentasi penulis.

 

Kamera yang Ikut “Mencari”

            Cara menemukan cerita seperti ini semakin menarik ketika dalam diskusi Beck, sang editor, mengatakan bahwa ia tidak selalu memahami riset sebagai kegiatan formal yang harus dimulai dengan rancangan serba lengkap. Ia bercerita tentang duduk di warung kopi, mendengarkan percakapan, memperhatikan orang dan mencermati fenomena yang terjadi. Dari sana gagasan bisa muncul.

            Bagi saya, kegiatan semacam itu tetap mempunyai watak riset. Ada proses mengamati, mendengar, menemukan sesuatu, mempertanyakannya, lalu mengambil keputusan berdasarkan apa yang ditemukan. Dalam kajian visual, pemahaman semacam ini bukan sesuatu yang asing. Fitzgerald dan Lowe (2020) bahkan menempatkan pembuatan film dokumenter sebagai proses penelitian yang dapat terlibat dalam pengumpulan data dan pembentukan makna, bukan sekadar produk audiovisual yang dibuat setelah penelitian selesai. Beck menggunakan ungkapan yang menarik: research with camera, alih-alih research for camera.

            Saya memahami research for camera dari penjelasannya sebagai keadaan ketika pembuat film telah menyiapkan apa yang ingin ditemukan. Gagasan, pesan, bahkan kebutuhan gambarnya sudah ditentukan lebih dahulu. Lapangan kemudian menjadi tempat

mencari apa yang diperlukan untuk memenuhi rancangan tersebut. Research with camera menawarkan sikap yang berbeda. Kamera dibawa untuk ikut mencari. Pembuat film memasuki lapangan dengan kesediaan untuk melihat apa yang benar-benar terjadi, termasuk menerima kemungkinan bahwa kenyataan justru menawarkan cerita yang berbeda dari bayangan awalnya.

            Cara berpikir ini berdekatan dengan wilayah visual ethnography yang dibahas Sarah Pink (2021), ketika praktik visual ditempatkan sebagai bagian dari proses menghasilkan pengetahuan dan makna. Kamera dengan demikian tidak harus menunggu sampai pengetahuan selesai dirumuskan. Melalui penggunaannya, sesuatu justru dapat ditemukan, dipertanyakan dan kemudian dipahami. Saya menyukai gagasan ini karena menempatkan kamera bukan sekadar sebagai alat perekam. Kamera ikut menjadi alat untuk berpikir.

 

Belajar dari Sebuah Ikat Pinggang

            Salah satu contoh paling kuat muncul pada bagian awal Metamorfoblus. Ada adegan ketika para penonton konser diminta melepaskan ikat pinggang sebelum masuk. Sekilas ini mungkin hanya prosedur pemeriksaan keamanan. Namun Dosy menangkap sesuatu yang ganjil sekaligus penting dari kejadian tersebut. Dalam diskusi ia menjelaskan bahwa ikat pinggang dilepas karena benda itu dapat digunakan sebagai senjata ketika terjadi kerusuhan. Benda yang begitu biasa tiba-tiba mempunyai makna lain.

            Dosy tidak perlu membuka film dengan uraian panjang mengenai potensi kekerasan dalam konser. Ia memperlihatkan orang-orang melepaskan ikat pinggang. Adegan tersebut bekerja karena ada kepekaan dan keputusan artistik di belakangnya. Dari begitu banyak kejadian di lapangan, pembuat film harus mampu mengenali mana yang sekadar lewat di depan kamera dan mana yang mempunyai kekuatan untuk membawa cerita. Cara kerja semacam ini mempunyai kedekatan dengan apa yang disebut David MacDougall (2020) sebagai observational filmmaking, terutama dalam keterbukaan filmmaker terhadap perilaku manusia yang spontan dan posisi pembuat film sebagai pengamat. Namun pengamatan saja belum cukup. Dosy masih harus menentukan bahwa peristiwa melepas ikat pinggang itu layak direkam, dipertahankan dalam proses penyuntingan, lalu ditempatkan pada bagian awal film. Di situlah keputusan artistik menjadi penting.

            Banyak orang mungkin melihat ikat pinggang. Kreator melihat persoalan di balik ikat pinggang. Bagi saya, urutannya menjadi menarik: fenomena ditemukan melalui pengamatan, kepekaan membuat kita menyadari bahwa fenomena itu penting, kreativitas membaca kemungkinan maknanya, lalu keputusan artistik menentukan bagaimana temuan tersebut hadir sebagai karya. Pelajaran semacam ini terasa penting bagi mahasiswa ISBI Tanah Papua.

            Kita hidup di Papua dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Ada tari, musik, noken, tifa, perahu, danau, hutan, bahasa, cerita rakyat, ritual, kampung dan kehidupan perkotaan yang terus berubah. Kekayaan itu menyediakan bahan penciptaan yang nyaris tidak habis. Namun kedekatan dengan semua itu kadang membuat kita terlalu cepat merasa sudah menemukan sesuatu hanya karena telah menemukan objek. Mahasiswa tari menemukan tradisi lalu mengambil motif geraknya. Mahasiswa musik menemukan nyanyian lalu membuat aransemen. Mahasiswa film datang ke kampung lalu merekam aktivitas masyarakat. Mahasiswa seni rupa menemukan motif tradisi lalu mengolahnya menjadi bentuk visual baru. Semua itu dapat menjadi awal. Pertanyaannya, apa yang kita lihat lebih jauh dari sana?

 

Gambar 3. Dosen dan mahasiswa ISBI Tanah Papua mengikuti pemutaran Metamorfoblus di Kampus I ISBI Tanah Papua. Dari ruang menonton semacam inilah film dapat berkembang menjadi bahan untuk belajar membaca realitas dan menemukan gagasan.

Foto: dokumentasi penulis.

 

            Metamorfoblus mengingatkan saya bahwa objek belum tentu merupakan cerita. Misalnya mahasiswa ingin membuat film tentang Danau Sentani. Ia dapat datang dengan gagasan mengenai kerusakan lingkungan. Sebelum turun ke lapangan, ia sudah menentukan bahwa harus ada gambar sampah, wawancara masyarakat, ikan yang semakin sulit ditemukan, lalu panorama danau dengan musik yang membangun kesedihan. Pada titik tertentu, ia mungkin justru sibuk mencari kenyataan yang sesuai dengan film yang telah selesai di kepalanya. Bagaimana jika caranya dibalik?

            Datanglah ke Danau Sentani, misalnya. Duduklah bersama orang yang hidup di sana. Dengarkan percakapan mereka. Ikuti aktivitasnya. Perhatikan apa yang terjadi di tepi danau. Jangan terlalu cepat menentukan apa yang harus ditemukan. Boleh jadi mahasiswa menemukan seorang anak membuang botol air mineral ke danau sementara neneknya sedang bercerita bahwa danau merupakan bagian dari kehidupan leluhurnya. Kejadian kecil itu mungkin jauh lebih kuat daripada puluhan gambar sampah yang sengaja dicari. Itulah "ikat pinggang" yang harus ditemukan mahasiswa.

            Prinsip yang sama dapat bekerja dalam tari. Mahasiswa yang ingin menciptakan karya dari sebuah tari tradisi jangan buru-buru mencari motif gerak untuk dipindahkan ke panggung. Tinggallah lebih lama bersama orang-orang yang menarikan tarian itu. Siapa yang masih menari? Siapa yang sudah berhenti? Apa yang dibicarakan sebelum mereka menari? Mengapa generasi muda tertarik atau justru menjauh? Apa yang berubah dari tubuh mereka? Apa yang terjadi ketika pertunjukan selesai? Boleh jadi sumber koreografi yang paling kuat justru bukan motif geraknya, melainkan persoalan manusia yang ditemukan di belakang gerak tersebut.

            Pemikiran ini mengingatkan saya pada pertanyaan mahasiswa menjelang semester akhir. "Pak, nanti semester VII saya mau menulis skripsi tentang apa?" Saya pernah menjawab dengan membedakan antara skripsi musik dan skripsi yang sekadar tentang musik. Prinsipnya berlaku pula untuk tari, film, seni rupa dan cabang seni lainnya. Tulisan yang sekadar tentang musik mudah berhenti pada pemberitahuan. Musik apa yang dimainkan, siapa pemainnya, dari mana asalnya, instrumen apa yang digunakan, kapan dipertunjukkan. Informasi seperti ini tetap berguna, terlebih untuk praktik budaya yang belum terdokumentasikan. Namun penelitian perlu bergerak ketika mahasiswa ingin menghasilkan pemahaman yang lebih dalam.

Karena itu pertanyaan yang menurut saya lebih penting adalah: persoalan apa yang ingin kamu pahami melalui musik itu?

            Dalam penciptaan pertanyaannya dapat serupa. Persoalan apa yang ingin kamu bicarakan melalui tari? Apa yang ingin kamu temukan melalui film? Apa yang sedang kamu pertanyakan melalui karya kriya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik objek yang menarik perhatianmu? Dari Metamorfoblus dan percakapan bersama Dosy Omar hari itu, saya semakin percaya bahwa kreativitas bukan perkara membuat sesuatu menjadi aneh agar terlihat berbeda. Kreativitas membutuhkan kepekaan untuk melihat kemungkinan pada sesuatu yang bagi orang lain mungkin terlihat biasa. Karena itu riset bagi mahasiswa seni jangan dipahami sebatas kegiatan mencari referensi sebelum membuat karya. Membaca buku penting. Membaca jurnal penting. Wawancara juga penting. Namun seorang seniman perlu mempunyai kemampuan lain yang sama pentingnya: membaca kehidupan. Duduk di warung kopi dan mendengarkan percakapan dapat menjadi bagian dari riset. Berjalan di kampung dapat menjadi riset. Mengikuti orang bekerja, melihat anak-anak bermain, mendengar percakapan mama-mama di pasar, memperhatikan perubahan bunyi sebuah kampung, atau merekam sesuatu yang belum kita pahami dapat membuka jalan menuju gagasan. Syaratnya satu: kita hadir dengan perhatian.

            Di situlah saya menemukan pelajaran terpenting dari Metamorfoblus untuk mahasiswa ISBI Tanah Papua. Papua tidak kekurangan objek untuk diciptakan atau diteliti. Yang perlu terus kita latih adalah kemampuan melihat persoalan di balik objek tersebut. Jangan sampai kekayaan Papua berhenti menjadi pemandangan, motif, ornamen, atau eksotika yang terus direproduksi. Tinggallah sedikit lebih lama. Dengarkan. Amati. Bertanya. Jangan buru-buru merasa sudah tahu apa yang akan ditemukan. Sebab terkadang sebuah gagasan besar tidak datang dari sesuatu yang spektakuler. Ia mungkin sedang menunggu di warung kopi. Atau tersembunyi pada sebuah ikat pinggang yang dilepas sebelum orang masuk ke konser.

Referensi

Fitzgerald, A., & Lowe, M. (2020). Acknowledging Documentary Filmmaking as not Only an Output but a Research Process: A Case for Quality Research Practice. International Journal of Qualitative Methods, 19. https://doi.org/10.1177/1609406920957462

MacDougall, D. (2020). Observational Filmmaking: A Unique Practice. Visual Anthropology, 33(5), 452–458. https://doi.org/10.1080/08949468.2020.1824976

Pink, S. (2021). Doing Visual Ethnography. SAGE Publications Ltd. https://doi.org/10.4135/9781036232306

 

 

Penulis adalah dosen Program Studi Seni Tari, Jurusan Seni Pertunjukan, ISBI Tanah Papua. Salah satu mata kuliah yang diampunya adalah mata kuliah Kritik Tari dan memiliki perhatian pada kritik seni pertunjukan, kajian tari, serta hubungan seni dengan persoalan sosial dan kebudayaan.

Bagikan:
Kembali

Dapatkan Info Terbaru PMB ISBI

Masukkan email Anda untuk menerima brosur dan pengingat jadwal pendaftaran.