Gagasan utama dari dua elemen
budaya ini adalah mengintegrasikan makna Dewi Robhong Holo sebagai entitas suci
pelindung alam menurut mitologi Suku Sentani, yang diaplikasikan melalui tari
Rejang sebagai tari persembahan budaya Bali. Komunitas Sanggar Seni Saraswati
menyambut baik workshop penciptaan tari ini, sebagaimana terlihat dari
antusiasme peserta. Sebanyak 50 pelaku seni terlibat, terdiri dari 43 pemain
musik gamelan Bali dan 7 penari perempuan dari komunitas Hindu di Kota Jayapura.
Dalam cerita mitologi Sentani Dewi Robhong Holo dijuluki
Mama Kehidupan, mitologi ini memberikan inspirasi yang kuat untuk penciptaan
tari Rejang Giri Jaya Ing Pura. Dewi Robhong Holo melambangkan Dewi Kesuburan,
Kesejahteraan, dan Kemakmuran. Inspirasi ini muncul karena diangkatnya tema
tentang kesejahteraan kehidupan masyarakat Hindu di Jayapura. Keterkaitan
antara mitologi dan kesejahteraan umat Hindu di Jayapura dapat
direpresentasikan melalui konsep tari Rejang, dimana nantinya tarian ini ditarikan
tepat di kaki Gunung Cycloop Sentani, di Pura Agung Giri Cycloop. Tari Rejang
Giri Jaya Ing Pura ditata secara kolektif oleh para penari dari Wanita Hindu
Dharma Indonesia (WHDI) Kota Jayapura, dan musik tari ditata oleh seorang dosen
ISBI Tanah Papua Kadek Indra Wijaya.
Workshop ini diselenggarakan selama tiga bulan bertempat di Wantilan Budaya
Pura Agung Surya Bhuwana Kota Jayapura. Metode penuangan gerak dibagi menjadi
tiga tahap: 1. Proses eksplorasi gerak tari serta pola lantai, 2. Proses
penggabungan musik dan gerak tari, 3. Penyempurnaan hasil akhir tari dan musik.
Selain itu, peserta dianjurkan untuk melakukan metode belajar di rumah secara
mandiri dengan mencatat dan merekam video gerakan yang diberikan, agar lebih
cepat memahami pola gerak tersebut. Dengan menggunakan metode sederhana ini,
proses penciptaan tari dapat dilakukan tepat waktu.
Keberhasilan dalam suatu proses dan
pencapaian hasil akhir yang baik tidak lepas dari tantangan yang dihadapi.
Lika-liku yang dilalui dalam proses ini, seperti mengatur jadwal workshop,
karena setiap peserta memiliki latar belakang dan waktu yang berbeda-beda,
serta kurangnya pemahaman tentang penciptaan tari, dan pemahaman teknik atau
pola permainan gamelan Bali. Oleh karena itu, dibutuhkan model pelatihan yang
bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga mendorong partisipasi
anggota secara lebih merata. Meskipun penuh tantangan, kondisi tersebut justru
membuka peluang besar bagi lahirnya kreativitas baru. Komunitas Hindu di
Jayapura memiliki modal sosial yang kuat berupa komitmen terhadap pelestarian
seni.
Penampilan tari
Rejang Giri Jaya Ing Pura
Saat penyajian tari Rejang Giri Jaya Ing Pura, suasana sakral tercipta
melalui harmonisasi gerak tari, kostum, properti, dan alunan musik gamelan
Bali. Tarian ini menyampaikan makna mendalam tentang mitologi sentani. Gerak
tari yang lembut, disertai dengan properti janur kuning yang dibuat dengan
apik, menciptakan aura sakral yang kuat. Alunan melodi gamelan Bali memperkuat
nuansa ketenangan, sementara kombinasi warna kostum merepresentasikan kesuburan
dan kesejahteraan. Dengan durasi 10 menit, pertunjukan ini menghadirkan nuansa
baru dalam upacara keagamaan, memungkinkan masyarakat merasakan keagungan tari
Rejang Giri Jaya Ing Pura
Penampilan Musik Tari
Ketua Komunitas Seni Saraswati Bali
di Kota Jayapura, I Dewa Putu Taman, menjelaskan bahwa Tari Rejang Giri Jaya
Ing Pura bukan hanya sekadar tarian tontonan. Tetapi tarian ini memberikan
vibrasi toleransi yang kuat, menunjukkan bahwa inspirasi atau ide karya seni
tidak mengenal batasan budaya, suku, dan ras. Selain itu, I Wayan Suasta tokoh
masyarakat Hindu di Jayapura menambahkan bahwa Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura
memiliki potensi untuk meningkatkan eksistensi serta memperkenalkan seni dan
budaya Bali kepada masyarakat di perantauan. Ia juga menekankan bahwa umat
Hindu di Jayapura mampu menselaraskan adat dan budaya mereka melalui
persembahan seni yang kaya akan nilai-nilai budaya, tanpa menghilangkan makna
yang telah terjalin dalam konteks sosial lingkungan Jayapura dan sekitarnya.
Melalui kegiatan ini, ISBI Tanah
Papua tidak hanya membantu penciptaan karya tari baru, tetapi juga memperkuat
ruang kerjasama lintas budaya di Kota Jayapura. Proses penciptaan partisipatif
model ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium dialog yang memadukan
tradisi dengan konteks lokal, serta mempertemukan identitas budaya dalam
semangat saling menghargai. Ke depan, model pendampingan komunitas berbasis
penciptaan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan bersama berbagai
komunitas budaya lainnya. Melalui pendekatan kerjasama partisipatif, seni tidak
hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai sarana
memperkuat kebersamaan, toleransi, dan keberlanjutan nilai-nilai budaya di
tengah masyarakat multikultural Papua